APAKAH SEMUA HADITS ADA AYATNYA?

Kategori Kritikan
Di lihat 137 kali

Ada sebuah komen yang saya temukan di salah satu pengguna facebook.
Dan saya ingin menyanggahnya walaupun faham itu hanya di gunakan orang-orang tertentu, sebenernya pemahaman dari salah satu komen tersebut benar. Namun sipenulis salah dalam memahaminya.

Komennya seperti ini:
1. Jauhi Hadits yang tidak Ada ayatnya dari Qur’an.
2. jauhilah Tafsir yg tidak di terbitkan Badan hukum, kementrian agama dan majelis ulama.

Saya ingin menyanggah Komen yang yang nomor satu dulu. Yaitu jauhi hadits yg tidak ada ayatnya:

Faham ini mau mencoba mengembangkan faham ust kodiran salim dalam menamai Hadits yang dianggap sahih oleh ulama terdahulu, beliau Ust Kodiran menyebutnya Hadits yang berwahyu maksutnya bersumber dari alqur’an. sedangkan ulama terdahulu menyebutnya hadits yang sahih artinya mungkin hadist yang benar/kuat.

Dan ust Kodiran Salim ini beliau salah seorang pengasuh mualaf dan beliau Seorang kristolog dan peneliti independen. Saya juga hampir banyak yang sependapat dengan pelajaran-pelajaran yang beliau sampaikan melalui fb dan saya juga banyak belajar dengan beliau melalui tulisan-tulisan belia. Namun ada juga saya yang tidak sependapat dengan pendapat-pendapat beliau dan sempet saya kritik namun berakhir dengan buruk karena akun fb saya di blokir oleh beliau. Tapi walaupun saya di blokir saya tidak ada rasa kesal sedikitpun, yang ada saya kangen dengan beliau karena sudah satu tahun ini saya tidak berhubungan dengan beliau hehe..

Dan termasuk ust/ulama tercerdas ahli kristolog dan perbandingan agama di dunia saat ini yaitu Ust Dr Zakir Naik. Bahkan kecerdasan dan kejeniusan Dr zakir saya anggap lebih tinggi di banding ulama-ulama terdahulu seperti imam Mazab dan lainnya. Beliau juga pendapatnya ada yang saya kritik. Namun bukan berarti saya sombong merasa paling benar dan sok pinter dan membanggakan diri, justru saya banyak belajar dari mereka. Ilmu saya seujung kuku mereka “ibaratnya” belum tentu ada.

Kita lanjut, namun komen yang saya ingin kritik tersebut tidak nyambung alias tidak relevan karena menurut pemahaman yang insyaallah lebih kuat tidak semua Hadits itu ada ayatnya Dari alquran. Yang ada Hadits, yang bersumber dari Alqur’an. Bersumber berarti Hadits tersebut atau perkataan yang di sampaikan Rosul tersebut mengambil dari petunjuk Alqur’an.

Berikut ini saya ingin memberi Contoh Hadits yang ada ayatnya dalam Alqur’an. Sebagai mana yg di maksut oleh si penulis komen yg saya maksut diatas. Namun itu lebih releven di sebut Hadits yang senada dan bersumber dari Alqur’an bukan Hadits yang tidak ada ayatnya dari Alqur’an. Pernyataan ini kurang tepat.

Contoh: Hadits senada dengan Qur’an dan bersumber dari Al-Qur’an.

Hadits: Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak (HR. Muslim).

Qur’an: Aku tidak akan mengikuti kecuali petunjuk al-Qur’an yang diwahyukan kepadaku, berisi argumentasi-argumentasi yang menjelaskan kepada kalian sisi-sisi kebenaran. Dia yang memberi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang mengamalkan ajarannya.

Namun ada juga Hadits-hadits yang tidak senada/tidak ada ayatnya dalam Alqur’an.

Ketika kita menghadapi Hadits yang tidak senada dengan Qur’an dan tidak ada ayatnya, namun saya yakin hadits tersebut bersumber dari Qur’an, dan namun jika hadits tersebut tidak ada ayatnya. namun tidak bertabrakan dengan Alqur’an. Tapi ada hal yang mengganjal di hati kita. Berarti masih ada yg harus kita pertanyakan di diri kita, maka kedepankan pernyataan ini: Salahkan akal diri kita? salahkan diri kita dalam memahami?.

Doktrin diri kita, alqur’an itu benar, Hadits itu benar, Rasul itu benar. Namun Hadits sudah pasti ada Cacatnya karena Hasil hafalan dari kumpulan dari masa ke masa, namun selagi Hadits tersebut tidak bertabrakan boleh di amalkan, namun jika bertabrakan maka utamakan qur’an. Jangan seperti Mayoritas mengamalkan Hadits-hadist yang bertabrakan dengan Alqur’an. Biasanya ini di populerkan Oleh Ahli bid’ah terutama dari golongan Nu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bohong. Beliau as-Shadiq (orang yang benar) dan al-Mashduq (wajib dibenarkan). Sikap kita terhadap hadits yg dianggap ulama terdahulu sahih, yg di maksut sahih oleh ulama terdahulu adalah hadits yg bersumber dari Qur’an, dan senada dengan Qur’an namun jika tidak senada dengan Qur’an dan tidak ada ayat namun tidak bertabrakan maka kita Husnudzan (berprasangka baik) kepada Hadits, Kecuali hadits tersebut bertabrakan dengan qur’an Boleh Suudzan bahwa Hadits tersebut mungkin sudah terplintir. Wallahu Alm.

Dan untuk sanggahan yang nomor dua yaitu:

jauhilah Tafsir yg tidak di terbitkan Badan hukum, kementrian agama dan majelis ulama.

Yang dimaksut beliau suruh nenjauhi tafsir sendiri, dan menyuuruh mengikuti tafsir mayoritas berarti beliau secara tidak langsung mengajak, menggiring, mengikuti Faham mayoritas manusia.

Saya hanya ingin menjelaskan sedikit untuk kata majelis ulama, siapa yang di maksut majelis ulama?
Majelis ulama yang di maksut adalah Mui, singkatan dari Majelis ulama indonesia, Mui ini ketua Golongan dan Mui ini dalam kuasa Penuh golongan Nu. Nu adalah Golongan terbaru urutan kedua setelah Muhamadiyah, Golongan Nu ini yang paling menyesatkan namun tiada ketara, namun ironisnya mereka mengklaim paling benar. Inilah pembodohan yang nyata terjadi. Yang salah di anggap benar namun yang benar di anggap salah. Siapa yang benar di anggap salah yaitu yang minoritas. Siapa minoritas Mungkin yang biasa mereka sebut wahabi atau salafi. Namun saya cukup muslim.

Namun oleh orang-orang mayoritas yang taqlid buta, golongan tersebut mereka sebut wadah/organisasi, dalam Qur’an alasan apapun tetap saja di sebut golongan, pendiri golongan Musrik dan pemecah belah agama, setiap golongan merasa bangga dengan pemahamannya masing-masing. Ini terbukti.

Dan mengenai ikuti mayoritas juga dalam Qur’an di jelaskan:
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). QS.al-An’am/6: 116.

Ayat Allah ini nyata dan terbukti bahwa mayoritas manusia mengikut kebanyakan orang kenyataan nya memang di sesatkan namun tiada mereka sadari.

Karena manusia cenderung condong mengikuti dan meniru tanpa melihat dasar dan alasannya seorang ulama atau ahli hukum terdahulu membuat fatwa akhirnya membuat mereka jadi taqlid buta dan fanatik buta. Dan sebagian Jika masyarakatnya senang dengan kemusrikan dan kebid’ahan, maka iapun juga mengikutinya berbondong-bondong seperti pelaku kuburiyun dan sejenisnya. Wallahu alm.

Fatwa: Dwiwap.com

comments

Share this...
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
0
tags:

Populer Posts

Arsip