Saya ingin cerita sedikit, Ini bukan gibah ya!

Banyak Orang awam menjadi Ust di kampung-kampung atau di plosok desa hanya berpengetahuan bermodal katanya-katanya, Tapi merasa dirinya Cerdas, Pinter dan mengerti tentang Agama. Ternyata setelah saya tinjau mengertinya hanya sebatas Amalan Ritual yang tidak ada perintahnya Dari Allah maupun Rosullnya alias Amalan Bid’ah atau analan Kesesatan yang tiada ketara Walaupun kesesatan ini tiada ketara namun efeknya sangat buruk Yaitu mematikan Sunnah bahkan yang wajib. Karena selalu dan sepanjang masa oleh pelaku dan penggemarnya di anggap Baik atau hasanah.

Singkat cerita hari Raya Id sekitar 2/3 harian saya Mudik kerumah orang tua saya ketika selisih beberapa jam dari datangnya saya, datang juga paman saya adik dari ibuk saya dari desa sebelah dan beberapa orang lainnya.

Singkat cerita tiba-tiba terjadi diskusi tentang yang berkaitan tentang agama seperti memperingati kematian, mengenai berminta maap dan sejenisnya. Dalam diskusi tersenut saya menggunakan faham murni Islam yang kaffah tanpa taqlid buta dan fanatik buta dan tanpa menggunakan islam berlebel saya katakan saya cukup islam/muslim berdasarkan Quran dan hadist bukan Salafi kalau di kampung saya taunya mereka mayoritas untuk penyebutan yang tak sepaham hanya muhamadiyah, dan sedangkan paman saya menggunakan faham pendapat manusia atau katanya-katanya dan tradisi-tradisi. Beliu bilang Kata guru saya dulu begini, kata kiay saya dulu begini dan kata kebanyakan orang dulu begini..

Saya sanggah singkat cerita karena saya gak hafal ayatnya, saya cuma menjelaskan, beragama islam itu mudah dan tidak sulit namun jangan di permudah dan di persulit. Ada perintahnya dari Allah dan Rosulnya kerjain kalau tidak ada jangan di kerjain, kita beragama bukan ngandalin atau ngutamain pendapat guru, Kiay, ust dan sejenisnya, kita memang di anjurkan mengikuti dalam qur’an tapi bukan untuk berfanatik buta dan bertaqlid buta terhadap ulama ini dan itu, namun ikuti yg di maksut di Ayat qur’an tersebut ikuti selagi tidak menyelisi apa yg di tentukan Allah dan rosulnya karena islam ketika itu sudah di cap sempurna. tidak boleh di tambah dan di kurangi lagi.

Lalu mereka berhujah Mengenai perkataan sahabat nabi tentang terawih yg di hidupkannya oleh sahabat nabi yaitu sebaik-baiknya bid’ah adalah ini dan berhujah Imam syafii membagi bid’ah menjadi 2. Saya katakan sholat terawih itu bukan bid’ah karena pernah di lakukan nabi, kalau toh sahabat nabi melakukan bid’ah itu, setelahnya dapat ijin/restu dari nabi dan Allah. Dalilnya: Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu. (Almaidah:3).

Sedangkan imam syafii membagi bid’ah menjadi 2 (sudah pernah saya bahas), Sekalipun pendapat Imam syafii itu benar, namun beliau itu manusia biasa bukan nabi atau rosul bukan sang penerima wahyu. Beliau tidak bisa di jadikan tolok ukur, tolok ukur kita Allah dan Rosul, kita beragama bukan berpatokan apa kata manusia biasa, tapi berpatokan Apa kata Allah dan Rosulnya. Imam syafii sendiri mengatakan: Apabila kalian mendapati pendapatku menyalahi perkataan Rasulullah SAW, maka lemparkanlah pendapatku ketepi dinding. Dan masih banyak lagi pesan-pesan beliau.

Dalam Alqur’an di jelaskan tidak boleh mengikuti mayoritas Manusia yang jumlahnya banyak nanti tersesat, dan saya bilang kepada paman saya itu kata Qur’an, bukan kata saya, namun saya bilang saya tidak hafal ayatnya. (Inilah kelemahan saya karena tidak mudah menghafal dalil-dalil Alqur’an maupun Hadits), mungkin andai saya bisa menghafal Qur’an ples terjemahannya berikut berbagai Hadits mungkin sy bisa jadi ust. Hehe ngimpi. Tidak semudah itu, menjadi Seorang Ust yg cerdas tidak mudah kecuali dapat izin dari Allah. Namun walaupun tidak bisa menjadi ust namun seenggak-enggak nya kita sampaikan yang kita tahu tentang kebenaran yang Hak bukan yg kebenaran semu. Skalian pun mungkin kita orang Munafik, namun semoga kita terhindar dari kemunafikan dan dusta. Amiin.

Sebenernya saya malu bicara tentang agama, karena saya sendiri masih kotor belum bisa beriman dan bertakwa dengan sesungguhnya, saya belum bisa nahan hawa nafsu, seperti egois, amarah emosi dan sejenisnya. Namun sy selalu berusaha melawan semua itu namun belum pernah berhasil, dan saya memang banyak belajar tentang agama islam yang kaffah, namun saya jujur belum bisa mengamalkannya ibaratnya hanya tau buat diri sendiri dulu. Wah jadi buka aib sendiri nih… Lupakan. Kita lanjut cerita saya.

Singkat cerita Paman sy mengatakan beliau imam masjid skalian khotib jumat di kampungnya. gk ada yg lain selain beliau yang berani naik mimbar jadi khotib di kampungnya kecuali saya.(kata beliau).

Singkat cerita ternyata apa yg beliau ceritakan kesaya atau sampaikan kesaya yaitu tentang apa yang di ceramahkan ketika khotib pada hari jumat yaitu tentang menghidupkan bid’ah/yg berbau kebidahan. Bukan tentang menghidupkan tauhid dan menghidupkan sunnah. Sedangkan yang membuat saya sungguh ironis!. Beliau tidak menyadari pembodohan yang sedang dilakukannya, Namun sudah saya kritik panjang lebar. Tidak perlu saya paparkan di blog ini lagian saya nulisnya ribet nanti di cap gibah sama pembaca yg gagal faham.

Ternyata Setelah saya amati kemampuan beliau tentang ilmu agama maupun pengetahuan lainnya belum begitu luas wawasannya, (bukan berarti saya merendahkan dan saya merasa luas ilmu pengetahuan nya Awas jangan gagal faham),. Walaupun saya lihat ada hal yg menunjukkan kecerdasan dalam dirinya yaitu banyak ayat-ayat Qur’an surat pendek yg banyak di hafalnya dan beliau dalam keluarga kandungnya mungkin paling mending/paling pintar. Paman saya sih mengatakan bahwa nenek saya masih ada kerabat/saudara dari Gus maksum kediri, dan beliau muridnya katanya. Saya senyum aja, singkat cerita saya sanggah gus maksum itu guru kebidahan dan kemusrikan yg tersegani di jawa timur ketika itu.

Red- Namun saya liat beliau menang Condong banyak menutup diri, Tidak ada rasa ingin tau, (bisa sy liat dari segi bahasa nadanya dan Motto maupun misinya).

Dan juga Bisa di liat dari segi berikutb ini:

1. Tidak hobi membaca ntah via berbagai buku. (Hanya buku tertentu yg beliau baca), Tidak pernah membaca qur’an ples terjemahannya. Ataupun Membaca melalui lainnya..

2. Tidak hobi mendengar ceramah-ceramah dr berbagai pemahaman/ tidak punya rasa ingin tau. Merasa dirinya sudah pintar dan luas pengetahuannya. Bukan tidak hobi lagi tapi bahkan tidak pernah, padahal mendengar ceramah dari berbagai pemahaman Ntah itu via dari berbagai radio dakwah, dari berbagai tv dakwah atau dari Yutube, semua itu akan menambah pengetahuan dan wawasan kita dan juga mendengar Murattal ples terjemahannya ini juga akan mebambah pengetahuan kita.

3. Belum punya HP android masih menggunakan hape jadul itupun Sms tidak bisa/telaten. Tidak punya android Ini akan ketinggalan informasi untuk di akhir jaman sekarang , karena melalui hp android akan banyak pengetahuan dan wawasan yang di dapat bagi penggunanya bila di gunakan dalam hal yang positip. Namun Paman saya sudah saya sarankan untuk membeli Android. Sy sampaikan kepada beliau disana kita bisa membaca buku dari berbagai riwayat yang sudah di kemas dalam aplikasi.

4. Mereka tidak tau persis membedakan mana yang haram dan mana yang halal, malah nanya saya kalau di jakarta sering nonton dangdut ya wi.. Karena dirinya klu nonton tv sukanya dangdut dan kalau di kampung saya acara tanggapan hiburan dangdut masih sangat populer, dan masih banyak lg tandanya yg tidak bisa saya ungkapkan.

Dan pastikan di kampung anda jika ada yg ngaku kiay, ust, dai dan sejenisnya namun tdk punya kriteria seperti yg saya sampaikan itu pastikan atau bilangin suruh banyak belajar lg jangan menutup diri merasa mampu dan sudah pintar seperti paman sy tersebut. Saya yakin di daerah anda banyak orang-orang yang di anggap ust seperti yang saya maksut.

Maap tulisan ini hanya sekedar kritikan dan sekalian untuk memotivasi bagi anda yg tidak menutup diri atau bagi anda yang terlalu menutup diri supaya banyak menggali ilmu pengetahuan atau belajar. Ustad yang cerdas lulusan sarjanah S3/S2 saja, yang hafal Alqur’an ples terjemahannya dan hafal dari berbagai hadits dan kitab para buatan ulama terdahulu saja mereka selalu belajar dan belajar, apa lagi kita yang awam harus lebih giat belajar. Jangan merasa sudah pintar, namun pengetahuan dan wawasan hanya sebatas taqlid buta dan fanatik buta bin katanya-katanya.

Maap tulisan ini tidak dalam rangka (menggibah/sejenisnya), tujuan saya mengkritik ini Biar tidak nambah banyak orang yg hanya cuma ngandalin taqlid buta dan fanatik buta atau katanya-katanya, semoga ada di antara kalian yg membuka diri untuk menerina nasihat saya. Saya juga sambil memperbaiki diri supaya tidak lain di bibir dan lain di hati. Mari kita perbaiki diri bersama-sama.

Fatwa: Dwiwap.com

Jangan lupa baca nasihat saya yang ini juga:

Nasihat Imam syafii yg saya luruskan

comments

Share this...
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
0
tags:

Populer Posts

Arsip