Menutup diri

Kategori Inspirasi
Di lihat 232 kali

Hits: 87

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Saudara-saudari, yang saya hormati, serta teman-teman semua yang saya banggakan. Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan hidayahnyalah kita dapat menikmati hidup di dunia yang fana ini.

Salam dan salawat semoga selalu dilimpahkan kepada teladan utama dalam pergaulan yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , keluarga, Sahabat beliau dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat.

Orang yang cindong menutup diri itu sombong dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan dan tidak punya rasa penasaran atau rasa ingin tahu akan ilmu pengetahuan lainnya yang di luar yang di ketahuinya.

jika seseorang itu tidak menyombongkan dan menutup diri dan merasa pengetahuannya luas mereka selalu punya rasa ingin tahu dan penasaran dan haus akan ilmu pengetahuan dan wawasan, mereka akan selalu berusaha menggali ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan mereka tidak akan mudah percaya sebelum terbukti kebenarannya dan mereka tidak mudah taqlid buta dan fanatik buta seperti mayoritas pengikut islam Golongan. Terutama pengikut Golongan Nu.

Orang yang punya rasa ingin tau selalu haus akan ilmu pengetahuan, umumnya mereka selalu penasaran, orang yang tidak menutup diri, mereka akan menggali ilmu terus di luar yg di ajarkan gurunya seperti di taklim yang di ikuti.

Orang yang tidak menutup diri mereka punya jiwa penasaran/rasa ingin tahu. Misalnya di jaman globlalisasi yang sudah serba canggih ini di mudahkan untuk kita menuntut ilmu untuk menambah pengetahuan dan wawasan seperti lewat website, seperti yutube, media sosial dan sejenisnya, orang yang punya rasa ingin tahu atau tidak menutup diri mereka tidak akan menyombongkan diri merasa dirinya sudah ngerti/banyak ilmu. Tapi menyadari bahwa dirinya ilmunya sangat terbatas, maka timbullah penasaran dan rasa ingin tau, bahkan sangking rasa ingin tahunya yang ngebet, klu melihat ada website di mobil, sepanduknya dan sejenisnya. Mereka selalu mencoba membukanya, begitupun jika ada berita-berita dari Si A, Si B dan seterusnya orang yang tidak menutup diri selalu ingin rasa tau, lalu menelusurinya berita ini benar atau tidaknya. Mereka tidak akan mudah taqlid buta dan menelan berita itu mentah-mentah.

Dan orang yang condong membodohin diri atau pasrah dengan kebodohannya di dunia nyata saya amati bagi mereka yang mempertahankan keawamannya dan kebodohan yg tidak mereka sadari, jika di kasih tahu atau di beri nasihat dia akan menyombongan dan memalingkan diri (bisa kita lihat dari bahasa muka, mulut dan mata atau bahasa tubuh.

Orang-orang bodoh di dunia maya umumnya banyak saya jumpai ngeyel, suka nunjukin pembodohan atau bodohin diri, mereka mayoritas mempertahankan keegoan dan keras kepalanya dalam pembodohan nya.

Pembaca jangan gagal faham “pembodohan atau bodohin diri” yang di maksut disini! Begini: Kata-kata itu bukan sombong atau berbangga diri. Itu sebuah replek.

Contoh sedikit apa yang anda tulis atau di kasih tahukan keorang lain itu mugkin/sudah ada di luar kepala yang anda kasih thau, atau anda menyodorkan tulisan yang sama dengan lawan diskusi anda namun beda bahasa tapi artinya sama.

Atau mungkin di dunia nyata anda di nasehati seseorang lalu selisih berapa bulan kata-kata yang di nasehatkan kepada anda, anda ambil alih, dan sedikit di rubah kata-katanya namun tetep dalam arti yang sama, lalu pada suatu hari anda sodorkan kepada orang yang awal menasehati anda.

Contoh lagi orang yang membodihin diri atau nunjukin pembodohan biasanya selalu nuduh, menyudutkan, seperti ngatain belajar dari google, tulisan copas, kamu wahabi dan masih banyak lagi alat yang mereka gunakan untuk membodohin diri dan nunjukin pembodohan.

Namun mungkin orang di dunia nyata jika menemukan orang yang sedang membodohin diri atau sok pinter atau sejenisnya ada diantara mereka yang merendah diri cukup senyum, atau ada cara lain…itu tergantung sifat orangnya.. Kalau saya terkadang diam saja tapi terkadang jika sudah terjebak atau di pancing maka saya akan menyanggahnya.

Dan pembodohan dan membodohin diri yang sangat parah itu biasanya suka nuduh dikit-dikit nyebut “google” maksutnya belajar dari google. Kenapa saya sebut membodohin yang parah Karena si penuduh maling teriak maling alias munafik, kalau kita mau berpikir luas, seorang penulis, dan bahkan seorang ahli sastra saja tidak luput dari copas hasil google/search, seorang dosen dan perguruan tinggi pun tidak luput dari yang namanya google/search, namun anda perlu tahu hasil search nya itu tidak akan di telennya mentah-mentah namun sebagian juga ada yang menekannya mentah-mentah namun sebagian hanya buat bahan bahasan atau repensi, mungkin melalui tulisan yang di copas itu mereka punya ide untuk mengkritiknya atau mungkin meluruskannya dengan kata-kata pemahaman yang benar yang sesuai dua petunjuk tanpa terselip taqlid buta dan fanatik buta. Ini hanya sebagian contoh seseorang yang bodohin diri/nunjukin pembidohan. Sebenernya sangat banyak contohnya namun saya itu rasa sudah cukup untuk bahan renungan.

Tidak bisa di pungkiri lagi bagi yang hobi menggali ilmu pengetahuan, bagi mereka yang selalu punya rasa ingin tahu dan penasaran contoh kecil jika anda naik motor mungkin di depan anda ada mobil lalu ada link web nya atau di sekitar jalan ada sepanduk bertulisan web, jika anda tidak menutup diri pasti anda memiliki rasa ingin tau dan penasaran. Pasti dalam benak anda apa sih isi dalam web itu. Lalu anda akan berusaha melihat informasi-informasi isi dalam web itu dan masih banyak lagi contohnya.

Namun tidak banyak saya jumpai orang yang punya prinsip seperti yang saya maksut. mayoritas mereka menutup diri dari yang di smpaikan orang lain, rata-rata mereka sombong sok pinter, sok cerdas padahal di nilai dari segi bahasa ‘mental’ mereka bodoh. dan wawasan pengetahuan hanya sebatas kata si A dan si B dan seterusnya sekalipun mereka berpendidikan tinggi mengapa? Karena mereka condong menutup diri dari ilmu pengetahuan, agama, tehnologi maupun lainnya dari yang di sampaikan orang yang mungkin bagi mereka di anggap tidak pantas menyampaikan. Akhirnya mereka mempertahankan taqlid butanya kepada suatu paham pendapat ahli hukum tertentu..

comments

tags:

Populer Posts